Langsung ke konten utama

Kepahitan Yang Paling Pahit

Kepahitan Yang Paling Pahit

Saya berharap... Kamu pun berharap... Dia berharap... Mereka pun berharap...

Apa itu harapan? Sederhananya, harapan adalah hasrat yang tertanam di dalam hati seseorang akan terwujudnya suatu hal tertentu. Setiap dari kita pasti pernah dan tengah berharap. Baik itu tentang impian dan cita-cita di masa depan maupun keinginan dalam waktu dekat ini.

Kepada siapa kita harus menyandarkan harapan? Tentu, jawaban yang paling benar adalah kepada Dzat yang telah menciptakan kita. Dialah yang maha kaya. Dzat yang maha hidup dan tidak akan pernah mati.

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Asy-Syarh : 8)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir : 15)

Selayaknya manusia selalu mengantungkan harapan, cita-cita serta kebutuhannya kepada Allah. Terlebih kita mengetahui diantara nama Allah adalah Ash-Shamad. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: Ash-Shamad adalah Dzat yang sempurna sifat-sifat-Nya yang semua makhluk selalu membutuhkanNya. (Tafsir Juz ‘Amma hal.353 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Oleh karena itulah Allah perintahkan kita untuk bertawakkal kepada-Nya saja. Allah berfirman:

وَتَوَڪَّلۡ عَلَى ٱلۡحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.” (QS. Al-Furqon : 58)

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq : 3)

Dialah yang maha berkehendak atas segala sesuatu. Bagaimanapun tingginya harapan dan ikhtiar kita, jika Dia tak menghendakinya, maka tak akan pernah terwujud. Begitulah setiap muslim hendaknya beritikad.

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap (rahmat Kami) dan sangat takut (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami” (QS.Al-Anbiya: 90)

Kepada-Nyalah kita menggantungkan setiap harapan. Berharap mendapatkan ridho-Nya, berharap mendapatkan rahmat-Nya, berharap mendapatkan ampunan-Nya, berharap dimasukkan kedalam surga-Nya, serta berharap akan segala bentuk kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak.

Namun, seringkali kita justu menaruh harapan kepada manusia. Pernahkah kita mengalaminya? Bagaimana rasanya? Apakah hati kita menjadi tenang atau justru berujung dengan kekecewaan?

Ketahuilah, manusia adalah makhluk yang lemah, tidak punya daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Allah berfirman:

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’: 28)

Kenapa kita masih berharap kepada manusia? Sungguh keutamaan dan pahala yang luar biasa bagi mereka yang selalu bergantung kepada Allah di kala suka maupun duka dan tidak bergantung kepada manusia. Apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ

“Apabila engkau shalat maka shalatlah seolah-olah shalat perpisahan dan jangan mengucapkan ucapan yang esok hari engkau akan menyesalinya dan jangan bergantung kepada manusia.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

Saya ingin menutup tulisan singkat ini dengan sebuah nasihat indah dari guru kita, Al-Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafizhahullahu ta’ala. Beliau menulis:

Tidak semua kebaikanmu

Akan dibalas dan diapresiasi oleh manusia

Manusia cepat lupa dan melupakan

Akan tetapi berharaplah hanya kepada Allah

Allah pasti membalasnya

Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan seorang mukmin

Allah berfirman,

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)

Berharaplah pada Allah saja balasannya

Jangan pernah berharap pada manusia

Engkau akan kecewa

Dalam pelajaran Tauhid

Kita diajarkan agar hanya berharap pada Allah saja

Ini menandakan semakin Ikhlasnya seseorang

Adapun balasan manusia

Tidak kita harap-harapkan

Jika mereka balas berbuat baik

Maka alhamdulillah

Jika mereka tidak membalas dengan kebaikan

kita tidak akan sakit hati dan kecewa

Betapa indahnya hanya berharap kepada Allah

Segeralah beramal baik dan menyebarkan manfaat

Allah berfirman,

ﻓَﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﻟِﻘَﺎﺀ ﺭَﺑِّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻌْﻤَﻞْ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ ﺭَﺑِّﻪِ ﺃَﺣَﺪًﺍ ‏

“Barangsiapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 107 - 110)

Sangat ingin kita berkata

Sebagaimana perkataan para Nabi dan orang yang ikhlas:

ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺃَﺟْﺮٍ ۖ ﺇِﻥْ ﺃَﺟْﺮِﻱَ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ 

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah/balasan kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (Asy-Syu’ara’: 164)

Allahu Akbar. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Renungkanlah saudara-saudaraku.

Saya berdoa kepada Allah Ta’ala, karena Dialah Dzat yang maha membolak-balikkan hati ini. Semoga segala harapan yang kita gantungkan senantiasa ditujukan kepada-Nya. Semoga kita dijauhkan dari sifat menggantungkan harapan kepada selain-Nya. Dan semoga kita semua diberikan petunjuk dan taufik untuk istiqomah dengan ikhlas menjalankan roda kehidupan diatas agama dan manhaj yang haq ini. Aamiin.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Bandung Tercinta, 22 Desember 2020. Selesai menjelang Maghrib.

Ivan Wanda, semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya.

Komentar

Posting Komentar