Saudaraku, Menulislah!
Menulis merupakan perkara yang sangat urgen dalam agama Islam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,” (QS. Al-Qalam: 1)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya.” (Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026)
Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabatnya agar menulis. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma. Beliau bersabda kepadanya:
اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ
“Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran.” (HR. Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106: Shahih)
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja
(Diwan Syafi’I hal. 103)
Sampai-sampai Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,
إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ
“Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding.” (Al-‘Ilmu no. 146 oleh Abu Khaitsamah)
Saudaraku, kehidupan kita didunia ini benar-benar sebentar. Maka, kita harus pandai-pandai memanfaatkan usia yang Allah berikan pada kita ini dengan beramal semaksimal mungkin. Dan salah satu amal yang hendaknya kita perjuangkan adalah amal yang akan terus mengalir pahalanya, meskipun kita telah wafat. Sebagaimana ada dosa jariyah, ada pula amal jariyah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Yang dimaksud dalam hadits adalah tiga amalan yang tidak terputus pahalanya:
1. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.
2. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.
3. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia. (Penjelasan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.)
Diantara ketiga amal shalih yang disebutkan dalam hadits diatas, salah satu yang perlu kita garis bawahi adalah menebar ilmu yang bermanfaat. Hal itu dapat direalisasikan lewat lisan maupun tulisan.
Kita bisa melihat bagaimana kesungguhan para ulama dahulu dalam menulis. Mereka bisa menghasilkan kitab-kitab yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan jilid. Luar biasa. Padahal di waktu itu tidak ada pulpen dan kertas yang sebagus seperti kita pakai sekarang, apalagi keyboard untuk mengetik. Tidak ada, wahai saudaraku.
Alat tulis yang mereka gunakan seadanya. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Cobalah renungkan kisah berikut ini:
Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah berkata:
“Guru kami (Syaikh Al-Albani) rahimahullah menugaskan aku untuk memuroja’ah (memeriksa kembali) beberapa juz dari kitab As-Silsilah Ad-Dho’ifah sebelum dicetak. Lalu ia pun menyerahkan jilid ke lima dari kita As-Silsilah Ad-Dho’ifah. Lalu akupun mengambil kitab tersebut yang ditulis dengan tulisan tangan beliau sebelum dicetak. Tatkala aku mengeluarkannya dari kantong dan aku melihat kitab tersebut maka akupun menangis.”
Maka Syaikh rahimahullah bertanya kepada ; “Kenapa engkau?”
Aku diam tidak menjawab, dan Syaikh melihat air mataku mengalir.
Ternyata Syaikh rahimahullah menulis kitab “Silsilah Al-Ahaadiits Ad-Dho’ifah” jilid ke lima pada kertas-kertas hadiah, dan kantong-kantong kertas gula dan beras, yaitu bungkusan-bungkusan yang berwarna merah yang digunakan orang-orang untuk menimbang gula dan beras.
Syaikh berkata kepadaku : “Saya punya benang-benang yang saya celupkan ke tinta lalu aku letakan benang-benang tersebut di atas kertas-kertas, sehingga kertas-kertas tesebut menjadi bergaris-garis. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas.”
Semoga Allah merahmati engkau yang telah menghabiskan umur untuk membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(Sumber: firanda.com, dinukil dari http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=27279)
Allahu Akbar. Demi Allah, hati ini menangis mendengar kisah Syaikh rahimahullah tersebut.
Betapa malunya diri ini. Apa yang telah kita lakukan?
Segala fasilitas tersedia bagi kita. Semua dari kita memiliki buku tulis dan
pulpen lengkap. Demikian pula benda yang sedang kita pegang sekarang, dapat mengetik
kalimat dengan sangat mudah. Sudahkah kita pergunakan untuk menulis ilmu?
Hendaknya kita memperbaiki semangat dalam menulis, Ikhwah. Perbanyaklah mencatat faidah dari apa-apa yang kita dengar. Saya yakin di gadget yang sedang dipegang oleh para pembaca ada fitur Notes/Catatan. Gunakanlah itu untuk mencatat ilmu yang kita dapatkan setiap hari.
Faidah yang kita tulis tersebut hendaknya dibagikan pula. Jadikanlah media internet ini sebagai ladang untuk menabung amal jariyah. Bisa di media sosial, blog, website, maupun platform lainnya. Meskipun, saya merekomendasikan saudara untuk memiliki blog sendiri, karena dari sisi keamanan dan keteraturan lebih dapat terkontrol. Namun, media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp pun In Syaa Allah telah cukup.
Engkau tak perlu menjadi seorang penulis yang handal, tak perlu ahli dalam merangkai kata-kata, meskipun hanya sekedar copy paste, dengan catatan tetap menyertakan sumbernya, maka In Syaa Allah itu akan menjadi amal kebaikan.
Bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Sebuah nasihat, khususnya bagi saya pribadi, hendaknya kita menjaga keikhlasan dalam menjalankan itu semua. Jangan sampai kita hanya mencari jumlah view, like, follower, share, dan comment. Allahul Musta'an.
Tak mengapa jika postinganmu tak ada atau sedikit like-nya. Yang Allah lihat adalah keikhlasan hatimu. Bahwa sedikitnya jumlah like lebih menjaga hati kita dari riya’. Sedangkan banyaknya like itu adalah ujian. Hendaknya kita berhati-hati.
Allahu Ya Karim. Kita berlindung dari segala bentuk penyakit hati
yang dapat menghancurkan amal kebaikan.
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku ketahui. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)
Saya tutup tulisan ini dengan beberapa bait status teman saya di Facebook beberapa hari lalu, yang semoga saja membuat kita termotivasi untuk senantiasa menulis hal-hal yang baik di media sosial:
بِسْـــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Akan tiba suatu hari nanti,
Semua Friend List kita melihat nama kita offline.
Mereka mengirim pesan di WhatsApp, kita tak menjawab.
Mereka chat di Messenger, kita tak membalas.
Pada hari itu, postingan kita tiba-tiba terhenti.
tidak lagi update.
Kenapa ?
Karena kita telah pergi meninggalkan dunia.
Ya, kita tidak akan online lagi,
tidak reply chat, ataupun berkomentar
pada postingan teman.
Kita mau edit status atau postingan meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti,
tapi terlambat....
Ya, kita tak lagi bersama mereka.
Pada hari itu kita sedang terbujur di lubang kubur sempit dan terhimpit,
cuma kita seorang diri yang
menghadapi ujian diri.
Dan ketika kita telah pergi,
yang tertinggal hanyalah huruf - huruf
di postingan kita.
Semua itu akan membela kita atau mungkin membinasakan kita di alam sana.
Maka dengan itu,
Tulislah yang baik-baik,
walaupun kita belum baik.
Sekurang-kurangnya kita terselamat
dari dosa menulis yang buruk.
Tulislah yang baik-baik,
bukan karena kita baik.
Tapi kita berusaha untuk jadi baik.
Tulislah yang baik-baik,
karena kita tau itu perkara baik.
Dan apabila kita berikan yang baik,
Mudah-mudahan perkara yang baik itu balik
kepada kita.
Tulislah yang baik-baik
karena kita mau yang baik-baik itu tinggal,
apabila kita sudah pergi.
Bicara yang baik,
Tulislah yang baik-baik.
Karena yang baik itu semuanya ibadah.
Walaupun hanya sekadar “senyum” dan “bersangka baik.”
Wallahu a'lam...
Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Saya memohon ampun kepada Allah atas segala kekurangan dan kekeliruan yang ada dalam tulisan ini.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Banjaran, 27 Desember
2020. Selesai di waktu malam tatkala hujan turun.
Komentar
Posting Komentar