Terkadang orang merasa kesal, sedih, dan kecewa. Ketika dia berjuang keras untuk mewujudkan sesuatu, segala kemampuan telah dia keluarkan, keringatnya bercucuran, siang malam dia berusaha, tetapi ternyata tidak ada yang memberikan apresiasi padanya atau bahkan apresiasi tersebut justru diberikan kepada orang lain yang sama sekali tak punya andil dalam mewujudkan hal tersebut. Dia merasa diperlakukan tidak adil, merasa dizholimi, hingga muncul kalimat dibenaknya, “Sia-sia usaha yang telah aku lakukan. Toh, ternyata tidak ada yang mengakui usahaku tersebut. Malah dia yang dapat pengakuan.”
Apakah teman-teman pernah melihat orang seperti itu? Ataukah justru kita sendiri yang pernah mengalaminya?
Teman, kita semua hanyalah manusia. Ya, manusia biasa. Makhluk yang dahulunya merupakan setetes air hina yang berikutnya akan menjadi bangkai bersama tanah. Dan diantara tabi’at manusia adalah suka mengeluh. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (QS. Al-Ma’aarij 70: 19)
Untuk siapakah kita beramal? Apakah untuk Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati? Ataukah untuk manusia yang penuh dengan dosa dan kesalahan?
Kita semua tahu jawabannya. Lalu, kenapa kita masih menginginkan pengakuan dari manusia? Bukankah mereka tak ubahnya sama seperti kita?
Hanya untuk memperoleh pujian dari mereka kita rela melakukan berbagai hal. Bahkan perkara yang semestinya kita tunaikan untuk menggapai ridho Allah, malah kita lakukan untuk berburu sebuah kalimat pujian yang pada hakikatnya adalah racun bagi hati kita.
Menyedihkan sekali nasib orang yang menggantungkan harapannya kepada manusia. Tak akan membuahkan apapun melainkan kebahagian yang bersifat semu, timbul riya dan ‘ujub, hingga berakhir dengan kekecewaan demi kekecewaan. Lihat tulisan kami: "Kepahitan Yang Paling Pahit."
Siapakah orang yang kita harapkan pujiannya itu, teman? Mari kita renungkan.
Ketahuilah bahwa dia hanyalah manusia biasa. Yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa menolak mudhorot bagi dirinya apalagi bagi kita
Dia adalah orang yang lemah. Saat dia sakit, dia akan terbaring tak berdaya. Suatu saat dia mati, dia akan menjadi bangkai.
Tak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang kita harapkan pujiannya tersebut lebih baik dari kita. Bahkan bisa saja dia lebih hina dari kita.
Tatkala dia memuji kita, biasanya itu terjadi saat kita sedang dalam keadaan baik. Adapun jika kita sedang ada masalah, mungkin saja dia tidak mau memuji kita. Bahkan bisa saja mengejek dan memaki kita.
Dia hanya mengetahui diri kita secara zhohir. Yang mengetahui hakikat diri kita yang sesungguhnya hanyalah Allah Jalla wa 'Ala.
Sekarang kita renungkan, siapakah diri kita ini yang selalu ingin memperoleh pengakuan dari manusia?
Kita ini pendosa. Sangat hina. Seandainya dosa kita diperlihatkan sebagiannya (tidak semuanya), niscaya tidak akan ada orang yang sudi memuji kita.
Muhammad bin Wasi' rahimahullah berkata, "Seandainya dosa-dosa itu memiliki aroma, maka tidak akan orang yang mau duduk dengan kita."
Kita dimuliakan oleh Allah karena aib-aib kita yang disembunyikan.
(Fawaid Materi Kelas Ustadz Firanda)
Dan ingatlah, bahwa orang yang melakukan suatu amalan tetapi ia lakukan untuk memperoleh ridho selain Allah, maka di dunia dan akhirat dia akan sengsara. Terlalu banyak dalil yang menjelaskan hal ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105)
Betapa mengerikan. Di dunia dia selalu gelisah, cemas, dan berharap dengan pengakuan dari manusia. Sementara di akhirat dia telah ditunggu dengan kehinaan yang akan Allah timpakan padanya. Nas’alullaha as-salaamah wal ‘aafiyah.
Lihatlah bagaimana Salafush Shalih dahulu begitu bersemangat untuk menyembunyikan amalnya supaya tak diketahui oleh manusia:
Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah. Beliau sholat malam setiap hari. Ketika fajar datang, dia berbaring sejenak dan pura-pura baru bangun dari tidurnya dengan mengeraskan suara. Supaya tidak disangka tadi malam ia sholat.
Ibnul Mubarak, dalam sebuah peperangan. Setelah sholat 'Isya, dia berbaring dan pura-pura tertidur. Temannya, Muhammad bin 'Ayun pun ikut tertidur bersamanya. Namun, Ibnul Mubarak setelah mengetahui temannya tersebut tidur, dia terbangun dengan pelan-pelan dan ia pun melaksanakan sholat sendirian semalam suntuk. Ternyata, Muhammad bin 'Ayyun tidak tertidur. Dia melihat Ibnul Mubarak sholat, tanpa sepengetahuannya. Sampai dipagi harinya, dikatakan kepada Ibnul Mubarak bahwa semalam Muhammad bin 'Ayyun sebetulnya melihat dia sholat malam. Mendengar hal itu, Ibnul Mubarak sangat marah. Dan sejak kejadian tersebut, ia tidak pernah berbicara lagi kepada Muhammad bin 'Ayyun. Dan selalu terlihat raut wajah yang tidak ramah kepadanya ketika bertemu, sampai Ibnul Mubarak wafat. Kemudian Muhammad bin 'Ayyun berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang paling menyembunyikan amalan kecuali Ibnul Mubarak."
Maka, mengharapkan pengakuan manusia atas amalan yang kita lakukan merupakan hal yang amat merugikan. Mengapa kita tak mengharapkan pengakuan dari Allah? Bukankah Dia adalah Dzat yang tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya?
اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan,” (QS. Ali Imran 3: 195)
Tatkala kita telah berusaha keras untuk mencapai sesuatu, tetapi ternyata tak ada yang memberikan pengakuan dari manusia, atau justru pengakuan itu diberikan kepada orang lain, maka kita harus yakin bahwa Allah melihat usaha kita dan Dia pasti akan memberikan balasan terbaik. Jika terbersit hasrat didalam hati keinginan untuk dipuji manusia, maka berdoalah agar terhindar dari riya’:
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku ketahui. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Seandainya pujian itu terlanjur datang, maka hendaknya kita membaca doa:
اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ
"Ya Allah, janganlah Engkau menghukumku akibat apa yang dia ucapkan (pujian), ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan.” (HR. Bukhari, Adabul Mufrad: 761)
Sungguh, pujian dan celaan manusia hanyalah di sepanjang lidahnya saja. Tidak akan memberikan manfaat maupun mudhorot apapun.
Dan seandainya satu dunia puji kita, sungguh itu tidak akan merubah kedudukan kita disisi Allah. Demikian pula, cercaan manusia satu dunia, juga tidak akan merubah kedudukan kita disisi Allah. Hanya Allah yang mengetahui hakikat diri kita. Maka, kepada-Nyalah kita menggantungkan segala harapan.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
Bandung, 7 Januari 2021. Selesai menjelang Maghrib.

Komentar
Posting Komentar